SULUTVIRAL.ID – Kejuaraan Tinju Amatir Liga Pelajar Kota Manado 2026 yang seharusnya menjadi panggung pembinaan dan sportivitas pelajar justru berujung polemik.

Rombongan atlet asal Kabupaten Kepulauan Sangihe mempertanyakan transparansi penyerahan sertifikat penghargaan. Persoalan tersebut bahkan berkembang menjadi insiden yang oleh salah satu orang tua atlet disebut sebagai dugaan pemukulan.

Kejuaraan yang berlangsung 3–5 September 2026 itu awalnya berjalan sebagai ajang para pelajar menunjukkan kemampuan di atas ring. Namun, persoalan muncul setelah pertandingan berakhir dan memasuki tahapan pembagian piala serta sertifikat.

Menurut keterangan salah satu pihak dari rombongan Sangihe, piala dan sertifikat yang sempat diberikan kemudian ditarik kembali dengan alasan sertifikat masih harus dilengkapi nama atlet.

Hal inilah yang kemudian memunculkan pertanyaan.

“Kami tidak memprotes hasil pertandingan. Kami hanya mempertanyakan sertifikat yang menjadi bagian dari penghargaan bagi atlet,” ujarnya.

Persoalan tersebut dinilai bukan perkara sepele. Para atlet asal Sangihe harus menempuh perjalanan jauh menuju Manado, termasuk perjalanan kapal selama satu malam, serta menjalani latihan berbulan-bulan sebelum mengikuti pertandingan.

“Kami dari Sangihe harus menempuh perjalanan jauh, naik kapal satu malam. Ada biaya, tenaga, waktu dan pengorbanan orang tua. Anak-anak juga sudah berlatih berbulan-bulan,” katanya.

Namun, situasi disebut semakin panas.

Pihak yang memberikan klarifikasi mengakui sempat terpancing emosi, membentak dan memukul meja ketika mempertanyakan persoalan sertifikat. Tetapi ia membantah telah menyerang atau memukul orang.

“Saya akui saya sempat emosi, membentak dan memukul meja. Tetapi saya tidak memukul atau menyerang orang,” tegasnya.

Setelah itu, ia mengaku justru mengalami dugaan pemukulan oleh seseorang yang disebut tidak dikenalnya.

“Saya bukan berkelahi, saya dipukul,” tegasnya.

Jika benar terjadi, insiden tersebut tentu menjadi persoalan serius. Sebab, kegiatan yang membawa nama pembinaan olahraga pelajar justru disebut berakhir dengan konflik di luar ring.

Pertanyaan pun muncul: mengapa persoalan sertifikat yang semestinya dapat diselesaikan melalui komunikasi justru berkembang menjadi dugaan kekerasan?

Percakapan WhatsApp Ikut Jadi Sorotan

Polemik semakin menarik perhatian setelah beredar tangkapan layar percakapan WhatsApp yang memuat sejumlah kalimat sebelum insiden terjadi.

Di antaranya terdapat kalimat seperti “Sadia sangkur komdan”, “pake kep pe jubi jo” dan “Besok torang bakalae.”

Meski demikian, isi percakapan tersebut belum dapat dijadikan bukti bahwa dugaan pemukulan telah direncanakan.

Pihak yang bersangkutan juga menegaskan tidak ingin menuduh seseorang tanpa dasar.

Namun, ia meminta apabila percakapan tersebut memang memiliki hubungan dengan kejadian, maka konteksnya harus diperiksa secara utuh, termasuk waktu percakapan, siapa saja yang terlibat dan apa hubungan pesan tersebut dengan insiden di lokasi pertandingan.

Di sinilah persoalan mulai menjadi tanda tanya besar.

Apakah percakapan tersebut hanya emosi sesaat? Apakah memang berkaitan dengan insiden? Atau hanya potongan komunikasi yang kemudian beredar tanpa konteks?

Jawabannya tentu membutuhkan pemeriksaan fakta dan keterangan dari seluruh pihak.

Manajer Tim Sangihe: Jangan Sampai Sportivitas Justru Hilang

Manajer tim, Irvan Mamadoa Ogelang, turut menyampaikan kekecewaannya.

Menurut Irvan, rombongan Sangihe datang ke Manado bukan untuk mencari masalah, melainkan membawa atlet bertanding dan membawa nama daerah.

“Kami datang membawa atlet untuk bertanding secara sportif. Anak-anak sudah berlatih dan mempersiapkan diri. Mereka datang jauh dari Sangihe dengan harapan dapat mengikuti pertandingan dengan baik dan memperoleh penghargaan sesuai prestasi yang mereka raih,” ujarnya.

Ia mempertanyakan mengapa persoalan administrasi mengenai sertifikat tidak diselesaikan sejak awal secara jelas.

Jika memang sertifikat belum dapat diberikan karena nama atlet belum tercantum, menurutnya, hal tersebut seharusnya disampaikan secara terbuka agar tidak menimbulkan salah paham.

“Kami sangat menyayangkan kalau kegiatan yang seharusnya mengajarkan sportivitas kepada anak-anak justru diwarnai persoalan seperti ini,” tegas Irvan.

Atlet Sangihe Ikut Bersuara

Salah satu petinju asal Sangihe, Sasahara IMO Pintareng, juga mengaku kecewa.

Menurutnya, perjuangan seorang atlet tidak hanya terjadi ketika berada di atas ring.

Ada latihan panjang, kedisiplinan, biaya perjalanan, dukungan keluarga dan pengorbanan waktu sebelum seorang atlet dapat bertanding.

Karena itu, penghargaan yang diterima setelah pertandingan memiliki arti tersendiri bagi atlet.

“Saya sebagai atlet tentu merasa kecewa kalau setelah mengikuti pertandingan dan berjuang sampai selesai, persoalan penghargaan justru menjadi tidak jelas,” katanya.

Ia berharap persoalan tersebut tidak membuat atlet pelajar kehilangan semangat untuk berkompetisi.

Panitia Diminta Buka-bukaan

Polemik ini kini menyisakan sejumlah pertanyaan yang layak dijawab secara terbuka oleh penyelenggara.

Mulai dari bagaimana mekanisme pemberian sertifikat, mengapa sertifikat yang sempat diberikan kemudian ditarik kembali, bagaimana status sertifikat yang belum mencantumkan nama atlet, hingga bagaimana sistem pengamanan selama kegiatan berlangsung.

Sebab, persoalannya kini bukan lagi sekadar selembar sertifikat.

Ada nama baik penyelenggaraan kompetisi, ada perjuangan atlet pelajar, ada orang tua yang datang dari daerah kepulauan, dan ada dugaan insiden kekerasan yang perlu dijelaskan berdasarkan fakta.

Pihak rombongan Sangihe menyatakan tidak ingin persoalan tersebut dibesar-besarkan tanpa dasar. Namun, jika benar terjadi tindakan kekerasan, mereka meminta persoalan itu diproses sesuai aturan.

“Kalau ada kesalahan dari kami, kami siap mengakui. Tetapi kalau ada tindakan yang merugikan atau kekerasan terhadap orang tua atlet, tentu harus ada penjelasan dan penyelesaian sesuai aturan,” ujar Irvan.

Kini publik tinggal menunggu: akankah polemik Liga Pelajar Tinju Manado ini mendapat penjelasan terbuka dari panitia, atau justru berhenti sebagai tanda tanya besar?

Yang jelas, sebuah kompetisi yang membawa nama pelajar dan olahraga semestinya menjadi tempat mengajarkan sportivitas—bukan meninggalkan polemik dan dugaan kekerasan di luar ring.(red)