SulutViral.id – Perhelatan akbar Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) XII Sulawesi Utara (Sulut) yang dibuka secara resmi pada Rabu, 19 November 2025, di Stadion Klabat Manado, tidak hanya menyisakan euforia olahraga tetapi juga menyulut kritik tajam.

Bukan soal teknis pertandingan, melainkan dugaan insiden protokol yang membuat sejumlah pihak merasa terganggu.

Kritik ini terpusat pada dua pembawa acara (MC) yang dalam narasi sambutan pembukaan, diduga sengaja tidak menyebut atau menyapa secara formal nama Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulut, Irjen Pol DR Royke Langie SIK, meskipun jenderal bintang dua itu hadir di barisan VVIP.

Menurut Jhony Rumayar, seorang tokoh masyarakat Kembang, kelalaian menyapa unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) seperti Kapolda dalam acara resmi kenegaraan atau pemerintahan adalah hal yang janggal. “Tradisi menyapa tamu atau tokoh penting dalam situasi formal, apalagi Muspida, adalah sesuatu yang umum,” ujar Rumayar.

Ia mempertanyakan kenapa dua MC—yang seharusnya berpedoman pada daftar resmi panitia—bisa melupakan tokoh sepenting Kapolda Sulut yang duduk di posisi sentral dan menjadi pusat perhatian.

Kecurigaan publik pun berkembang luas. Beberapa pihak, termasuk aktivis Sulut Calvin Castro dan pemuda Manado Utara Rahmat Surat, mencurigai insiden ini bukan sekadar kelalaian, tetapi ada unsur kesengajaan yang dipicu oleh “ketidaksukaan” panitia terhadap Kapolda. Mereka berpendapat bahwa melupakan tokoh besar, apalagi jenderal yang populer dalam penegakan hukum anti-korupsi dan penjamin keamanan, dapat diartikan sebagai upaya memalukan di forum resmi.

“Melupakan tokoh penting yang berada depan mata itu bukan hal biasa. Rasanya ada ketidaksukaan panitia yang menurut saya harus diketahui apa motif panitia,” kritik Rahmat Surat. Sementara Calvin Castro membenarkan, “Iya benar saya pasang telinga sejak awal Kapolda Sulut tidak disapa. Beliau sudah duduk di VVIP.” Castro menekankan peran vital Kapolda dalam menjamin keamanan Porprov.

Di sisi lain, perlu dilihat bahwa fokus utama acara pembukaan adalah peresmian dan semangat olahraga.

Ketua Umum Panitia Porprov Manado, dr Richard Sualang, dalam sambutannya hanya disebutkan menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut di bawah kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus dan Wagub Victor Mailangkay, serta kepada para Bupati dan Walikota.

Besar kemungkinan, panitia berupaya mengefisienkan waktu seremonial yang sudah padat, yang diawali dengan tarian, marching band, defile atlet, dan sambutan.

Jika ada kelalaian, itu bisa jadi murni miskoordinasi atau kegagalan protokoler dalam menyusun urutan sapaan, alih-alih motif politik atau dendam pribadi.

Dalam acara besar, susunan protokoler yang hanya fokus pada kepala daerah (Gubernur, Wagub, Bupati/Walikota) sebagai tuan rumah, bisa saja menjadi kebijakan prioritas.

Namun, mengesampingkan Muspida, terutama Kapolda yang merupakan pilar keamanan daerah, tetap dianggap sebagai cacat dalam penyelenggaraan acara sekelas Porprov, yang melibatkan 4.097 atlet dan 1.224 pelatih/ofisial dari 34 cabang olahraga.

Panitia penyelenggara diharapkan segera memberikan klarifikasi resmi atas insiden sapaan ini untuk meredam spekulasi publik dan menjaga citra soliditas Muspida Sulut. (ZKL)