SulutViral.id – Kunjungan Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) periode 2025–2027, Prima Surbakti, ke Sulawesi Utara (Sulut) pada Kamis (21/11/2025) menjadi sorotan.

Agendanya tidak hanya sebatas kunjungan organisatoris, tetapi juga pertemuan strategis dengan tokoh adat setempat, Tonaas Wangko Ishak Tambani, yang menghasilkan semangat baru bagi penguatan karakter pemuda Nusantara.

Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut menggarisbawahi pentingnya sinergi antara gerakan mahasiswa dan kearifan lokal.

Dalam kesempatan itu, Ketum Prima Surbakti secara tegas menyampaikan kekaguman dan apresiasi kepada masyarakat adat dan tokoh-tokoh lokal Sulawesi Utara.

Ia menyoroti peran mereka sebagai penjaga nilai toleransi, persatuan, dan kerukunan, yang telah membentuk citra Sulut sebagai “daerah yang damai dan maju.”

“Sulawesi Utara telah memberikan contoh nyata tentang bagaimana keragaman dapat hidup berdampingan. Nilai-nilai ini harus kita jaga dan teruskan. GMKI berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan tokoh adat seperti Tonaas Wangko Ishak Tambani untuk membangun gerakan pemuda yang lebih inklusif dan berintegritas,” ujar Prima.

Komitmen ini menunjukkan bahwa GMKI melihat tokoh adat bukan hanya sebagai mitra silaturahmi, melainkan sebagai pilar penting dalam mencetak pemimpin muda yang berakar kuat pada budaya bangsa.

Sementara itu, Tonaas Wangko Ishak Tambani menyambut baik inisiatif GMKI. Dalam nasehat visioner yang disampaikannya, Tonaas Wangko menekankan pentingnya organisasi mahasiswa terus menelurkan kader-kader muda yang kuat, berkarakter, dan tak melupakan nilai budaya serta identitas keindonesiaan.

Pesan ini menjadi penekanan kritis di tengah arus globalisasi yang rentan menggerus identitas lokal.

Kehadiran pimpinan GMKI di ‘Bumi Nyiur Melambai’ ini mengirimkan pesan kuat. Hal ini bukan sekadar bentuk penghormatan, melainkan penegasan bahwa pemuda Sulawesi Utara memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor kemajuan, penjaga persatuan, dan penggerak inovasi bangsa, yang karakternya dibentuk oleh nilai-nilai kearifan lokal.

Kolaborasi antara Ketum GMKI dan Tonaas Wangko Ishak Tambani ini diharapkan menjadi model bagi daerah lain di Indonesia, menunjukkan bahwa masa depan bangsa terletak pada kemampuan generasi muda untuk bersinergi erat dengan akar budaya dan kearifan para pendahulu. (ZKL)