Oknum Operatur Makan Untung Premi 500 per Liter, Tiap Hari 6 Ton Solar Subsidi Salah Sasaran
MANADO — SPBU Winangun Atas, hingga saat ini diduga kuat masih dikuasai MAFIA SOLAR. Informasi didapat, hal ini terjadi karena ada dugaan kerjasama dari oknum operator SPBU. Sebab, oknum operator makan untung premi Rp 500 per liter.
“Tiap hari pasti ada antrian panjang puluhan truk milik MAFIA SOLAR, yang bolak balik sedot solar subsidi di SPBU Winangun Atas. Ini bisa terjadi karena ada kerjasama dengan oknum operator SPBU. Dimana oknum tersebut makan untung dengan menarik premi Rp 500 per liter solar subsidi,” ujar orang dalam SPBU.

Dikatakan, harga sebenarnya solar subsidi Rp 6.800 perliter. Tapi karena dugaan kesepakatan dengan MAFIA SOLAR, sopir-sopir truk membayar Rp 7.300 per liter kepada oknum operator SPBU nakal.
“Jadi hitungan kasar, tiap hari SPBU Winangun Atas menebus sekira delapan ton solar subsidi ke Pertamina. Tapi kira-kira hanya dua ton yang tepat sasaran, itupun sudah dihitung lebih. Untuk enam ton solar subsidi, itu jatahnya MAFIA SOLAR,” katanya.
“Sehingga tiap hari, paling kurang oknum operator nakal paling sedikit dapat Rp 3 juta,” sambung orang dalam dan mewanti-wanti agar namanya disimpan.
Senada, sala satu sopir truk juga mengungkapkan, ada oknum operator SPBU Winangun Atas, yang kerap mengabaikan prosedur penerapan barcode Pertamina.
“Kalau ada dia (oknum operator nakal) aman sekali. Rata-rata truk atau mobil station modifikasi berbahan bakar solar yang antre di SPBU Winangun Atas, itu kepunyaan dari orang-orang yang bisnis solar subsidi (MAFIA SOLAR). Banyak barcode bodong di sini,” bebernya.
Terpisah, aktivis Jefrey Sorongan sangat mengecam dugaan tersebut. Ia mendesak agar Pertamina melakukan investigas dan pengawasan di SPBU Winangun Atas.
“Negara rugi miliaran rupiah tiap tahun. Pertamina harus cabut izin SBPU Winangun Atas itu,” tekannya.(*/red)



Tinggalkan Balasan